Senin, 26 November 2007

Hidup Adalah Sebuah Pilihan

Whatever comes our way,
whatever battle we have raging inside us,
we always have a choice,
my friend Harry taught me that.
He chose to be the best of himself.
It's the choices that make us who we are,
and we can always choose to do what's right.
-Taken from Spiderman 3 -


Terkadang kita merasa bahwa kita tidak punya pilihan akan nasib atau takdir kita, padahal kita punya sebuah pilihan untuk memberikan respon atas apa yang kita alami. Sering kali kita berkata "Saya tidak punya pilihan", pada saat itu sebenarnya kita sudah membuat pilihan untuk tidak membuat pilihan.
Yang terpenting bukanlah pilihan itu benar atau salah namun apakah pilihan yang kita buat membuat kita menjadi orang yang lebih baik lagi. Setiap pemikiran kita, setiap pilihan yang kita buat, setiap pengalaman yang kita alami membuat kita menjadi orang yang berbeda. Keputusan untuk menjadi jahat atau baik selalu di tangan kita.
Jadi pilihan apa yang akan Anda buat hari ini?

Senin, 12 November 2007

karakter

Ada sepasang suami istri yang berbeda sifat satu sama lain. Sang suami ialah orang yang sangat baik hati. Ia suka memberi dan menolong orang lain, sedangkan sang istri tidak demikian. Suatu ketika datanglah seorang pengemis ke rumah mereka. “Permisi pak, tolonglah anak saya, jika ia tidak segera diobati ia akan meninggal” kata pengemis itu. Seketika itu juga sang suami tergerak hatinya. Namun ia tidak punya uang sepeser pun. Karena ia memiliki prinsip untuk selalu memberi, ia pun berusaha mencari-cari apa yang dapat ia berikan pada pengemis itu. “Oh ya, ia kan butuh obat, akan kuberikan obat saja” pikir sang suami. Namun ternyata kotak obatnya kosong. Ia pun berpikir lagi, “mungkin aku bisa memberinya makanan”.
Dengan segera ia menuju ke meja makan, namun tampaknya tidak ada makanan yang tersisa sama sekali. Sang suami bingung. Ia berkeliling rumah memikirkan apa yang dapat ia berikan. Tiba-tiba ia melihat kotak perhiasan tergeletak di atas tempat tidurnya. Di dalamnya ada sebuah perhiasan terbuat dari emas. Tanpa pikir panjang diambilnya perhiasan itu kemudian diserahkannya kepada pengemis tersebut. Pengemis itu sangat terkejut. Sang suami lantas berkata “Maaf tidak ada yang dapat kuberikan. Ambillah perhiasan ini kemudian juallah di pasar. Semoga dapat membantu menyembuhkan anakmu.” Bagai mendapat durian runtuh, sang pengemis tadi mengucapkan terimakasih berkali-kali atas kebaikan hati sang suami.
Kejadian itu terlihat oleh sang istri. Ia merasa heran mengapa pengemis itu begitu bahagia. Masih dalam kecurigaan ia masuk ke kamar dan melihat kotak perhiasannya dalam keadaan terbuka. Perlahan ia mendekati kotak perhiasannya dan menemukan bahwa perhiasannya hilang. Seketika itu juga ia menyadari bahwa suaminya memberikan perhiasannya kepada pengemis itu. “Suamiku” teriaknya “perhiasanku di mana? Kamu berikan pada pengemis itu ya? Memangnya kamu tidak tahu harga perhiasan itu? Harganya puluhan juta…. Sekarang juga kamu kejar pengemis itu.”
Sang suami tidak membantah ucapan istrinya. Ia segera mengejar pengemis itu. Ketika bertemu dengan pengemis itu ia lalu berkata sambil terengah-engah“ Hai, pak Bapak masih ingat saya? Saya orang yang tadi memberi perhiasan itu ke bapak.” “Oh ya, tentu saja” jawab pengemis itu. Sang suami lalu berkata, “saya mau menyampaikan pesan dari istri saya” Mendengar hal tersebut sang pengemis berpikir “jangan-jangan ia mau mengambil kembali perhiasan yang diberikan kepadaku”. “Bapak tahu tidak berapa harga perhiasan itu? “ tanya sang suami. “Harganya sepuluh juta rupiah, pak”. Lanjut sang suami. Pengemis itu begitu terkejut mendengarnya. Ia berniat mengembalikan perhiasan itu. Namun sebelum ia memberikannya sang suami berkata “Jadi kalau bapak mau menjual perhiasan itu jangan sampai di bawah sepuluh juta ya…. Sekarang cepatlah bapak ke pasar kemudian juallah perhiasan itu dan belikan obat untuk anak bapak” Sang istri menunggu di rumah dengan cemas, sampai dilihatlah suaminya pulang. “Bagaimana pak? Sudah kau temukan pengemis itu?” Sang suami berkata “oh sudah, saya juga sudah menyampaikan pesanmu.” “Apa yang kamu katakan? Dan mana perhiasanku?” tanya sang istri Saya bilang kepada pengemis itu bahwa perhiasan itu harganya sepuluh juta rupiah, jadi jangan sampai menjualnya di bawah sepuluh juta.
Ketika mendengar cerita di atas kita mungkin akan tertawa dan merasa bahwa cerita tersebut konyol. Namun sebenarnya apa sih yang mau disampaikan oleh cerita tersebut? Sang suami adalah orang yang punya prinsip. Ia rela memberikan apa pun demi menolong orang lain. Dan ketika sang istri memintanya menemui pengemis itu, refleksnya bukan meminta kembali perhiasan yang telah ia berikan melainkan berkata agar pengemis itu tidak menjual perhiasan itu di bawah sepuluh juta. Inilah yang perlu kita teladani, bagaimana kita terus menerus berbuat baik, baik melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan, sehingga menjadi kebiasaan dan karakter kita dan pada akhirnya akan menjadi refleks kita dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian kita akan mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.

Jika Anda menanam pikiran, Anda akan menuai tindakan.
Jika Anda menanam tindakan Anda akan menuai kebiasaan.
Jika Anda menanam kebiasaan Anda akan menuai karakter.
Jika Anda menanam karakter Anda akan menuai nasib.