Beberapa hari yang lalu, hujan deras turun. Akibatnya terjadilah banjir hampir di setiap jalan yang saja lalui. Ini adalah pertama kalinya saya membawa motor sendiri dan terjebak dalam banjir. Sepanjang perjalanan dengan penuh kekhawatiran jalan-jalan yang banjir kulalui. Semoga saja mesin motor ini tidak mogok, begitulah harapanku.
Semakin jauh berjalan, saya melihat pemandangan yang bagi saya cukup menyedihkan. Banyak sekali kendaraan yang mogok sehingga harus dituntun dan didorong oleh pemiliknya. Hujan pun tampaknya belum mau reda. Banyak juga orang-orang yang memanfaatkan moment ini untuk mendapatkan uang dengan menawarkan jasa untuk memperbaiki maupun untuk menolong.
Saya berusaha untuk mengencangkan gas dengan harapan motor saya tidak mengalami seperti apa yang saya lihat. Perjalanan dari kantor ke rumah memakan waktu sekitar setengah jam.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba mobil di depan saya berhenti, karena kaget, saya langsung melepas gas dan menekan rem kuat-kuat. Akhirnya mesin motor saya mati. Saya mencoba menghidupkannya kembali, namun tampaknya sia-sia, sementara air hujan terus memasuki mesin motor.
Mendorong motor sampai rumah hampir tidak mungkin. Perjalanan menuju rumah masih cukup jauh. satu-satunya yang terpikirkan saat itu adalah berhenti sebentar dan menelepon seseorang untuk mencari bantuan.
Saya menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari tempat yang tidak terkena banjir. Saat itu saya melihat sebuah toko yang posisinya tinggi, sekitar satu meter di atas banjir. Saya mendorong motor saya ke samping dengan sekuat tenaga, sampai saya menyadari ada orang yang membantu mendorong motor hingga ke atas.
Tanpa banyak bicara, orang tersebut langsung memiringkan motor saya, entah untuk apa saya pun tidak mengerti. Saya pikir mungkin dia mencoba untuk mengeluarkan air dari knalpot motor. Tak lama kemudian, datanglah seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun membawa peralatan ala kadarnya. Saya katakan ala kadarnya karena perlengkapan yang dia miliki hanya beberapa potong besi, dan itu tidak selengkap perlengkapan yang ada di motor saya.
Saya melihat usahanya untuk memperbaiki motor yang mogok tersebut. Dari caranya membuka dan membersihkan busi, saya tahu bahwa ia bukan seorang montir. Sembari menunggu, saya menoleh ke sekeliling. Tampaknya bukan hanya saya yang menepi ke toko itu, ada banyak motor lainnya yang juga diperbaiki di sana. Setelah mengamati sejenak, saya tahu bahwa yang memperbaiki motor-motor tersebut adalah bapak dan anak.
Dari cerita-cerita yang saya dengar dari teman-teman, biasanya memang sering ada orang yang menawarkan jasa tersebut dengan imbalan tertentu. Sekitar 15 menit kemudian, motor saya menyala lagi, namun masih mati-mati. Akhirnya sang bapak mendekati motor saya dan membesarkan gas motor tersebut. Setelah selesai, ia mengajari saya agar mesin motor tidak cepat mati.
Setelah selesai, saya menanyakan berapa imbalan yang harus saya berikan kepada mereka. Spontan mereka langsung berkata tidak usah, kami tidak menerima imbalan. Saat itulah saya merasa sangat terkejut, hampir tidak percaya. Namun mereka meyakinkan bahwa mereka hanya berniat untuk menolong. Di saat krisis global seperti ini masih ada orang yang mau membantu dengan tanpa pamrih, padahal saat itu adalah saat yang bagus untuk mendapatkan keuntungan yang banyak.
Setelah mengucapkan terimakasih saya langsung meninggalkan tempat itu. Namun kejadian itu tidak pernah akan saya lupakan. Mereka mengajarkan saya tentang kebaikan yang tulus, menolong orang lain di saat orang sedang kesusahan, walaupun mereka kehujanan dan harus turun langsung ke daerah yang banjir. Semoga Tuhan membalas kebaikan mereka....
Sabtu, 10 Januari 2009
Langganan:
Komentar (Atom)