Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah buku terbitan Dian Dharma. Di dalamnya ada sebuah artikel menarik mengenai 3 tipe kemarahan. Berikut adalah artikelnya….
Ada tiga jenis manusia di dunia ini. Siapakah mereka?
Jenis yang pertama seperti orang yang memahat di batu karang,
Jenis yang kedua layaknya orang mencoret-coret di atas tanah, dan
Jenis ketiga adalah orang yang menulis di atas air.
Manusia jenis apa yang memahat di batu karang?
Bayangkan seseorang yang selalu marah dan kemarahannya berlangsung lama,
seperti memahat di batu karang
yang hasilnya tidak cepat lekang oleh angin, air, maupun waktu.
Seperti apa manusia yang mencoret-coret di atas tanah?
Bayangkan seseorang yang selalu marah namun kemarahannya tidak bertahan lama, seperti coretan di atas tanah
yang cepat hilang oleh angin, air, maupun waktu.
Bagaimana dengan jenis orang yang menulis di atas air?
Bayangkan seseorang yang walaupun menerima perkataan keras,
tajam, kasar, mudah berbaikan kembali serta bersikap ramah dan bersahabat, demikianlah jenis orang yang menulis di atas air.
Para pembaca, menjelang akhir tahun ini, marilah kita lakukan introspeksi diri atas segala perbuatan kita di tahun sebelumnya. Dengan demikian di tahun mendatang kita dapat menjadi orang yang lebih sabar, lebih rendah hati, dan lebih bijaksana lagi, serta dapat menjadi orang yang menuliskan kemarahan di atas air…..
Jumat, 21 Desember 2007
Senin, 10 Desember 2007
Question Behind The Question (QBQ)
Pernahkah kita bertanya seperti di bawah ini:
"Mengapa mereka melakukan semua ini jadi mempersulit saya saja?“
"Mengapa yang lain tidak bekerja lebih keras?“
"Kapan mereka akan mentraining saya?"
"Mengapa mereka tidak berkomunikasi dengan lebih baik?"
dan pertanyaan-pertanyaan yang sejenis
Semua pertanyaan di atas dalam konsep QBQ disebut sebagai Pertanyaan Salah yaitu suatu pertanyaan pertama yang seketika itu muncul di benak kita dalam suatu kejadian yang menimpa kita. Pertanyaan pertama yang muncul ini biasanya bersifat negatif.
Bandingkan pertanyaan di atas dengan pertanyaan ini :
"Bagaimana supaya saya bisa bekerja lebih maksimal dalam kondisi seperti ini?"
"Apa yang bisa saya lakukan untuk bisa membantu orang lain bekerja lebih keras"
"Apa yang harus saya pelajari untuk bisa meningkatkan skill saya?"
"Bagaimana saya bisa belajar berkomunikasi lebih baik lagi supaya bisa berhubungan dengan banyak orang?"
Pertanyaan di atas ialah pertanyaan yang menggunakan konsep QBQ. QBQ adalah sebuah teknik /alat bantu yang telah dikembangkan dan disempurnakan selama bertahun-tahun, yang membantu semua individu dalam mempraktikkan akuntabilitas pribadi dengan cara mengajukan pertanyaan yang lebih baik. Konsep QBQ ini dicetuskan oleh John G. Miller seorang ahli dalam organizational development dan akuntabilitas pribadi.
John G. Miller telah menulis dan berbicara tentang konsep ini sejak tahun 1995 dan sejak saat itu topik mengenai hal ini selalu didengung-dengungkan olehnya. Nah apabila kita bisa membiasakan / mendisiplinkan diri untuk berpikir cepat dengan memikirkan maksud / arti dari pertanyaan pertama dan kemudian bisa mengajukan pertanyaan berikutnya yang lebih baik (pertanyaan QBQ) maka pasti pertanyaan itu akan menuntun kita untuk mendapatkan penyelesaian yang lebih baik pula
Berikut adalah 3 panduan menurut John G. Miller untuk mengajukan QBQ :
1. Dimulai dengan "Apa" atau "Bagaimana" (bukan "Mengapa", "Kapan" atau "Siapa")
2. Terdiri dari kata "Saya" (bukan "Mereka", "Kalian", "Kami" atau "kamu")
3. Berfokus pada tindakan
Contoh :
- Apa yang dapat saya lakukan untuk membuat perbedaan?
- Bagaimana saya bisa membantu?
Jadi konsepnya lebih ke arah diri sendiri yaitu "saya" karena kita tidak bisa merubah orang lain, yang bisa kita ubah adalah diri kita sendiri.
Untuk lebih memahami tentang QBQ berikut ada sebuah kisah :
Bertahun-tahun dahulu, pada malam hujan badai, seorang laki-laki tua dan istrinya masuk ke sebuah lobby hotel kecil di Philadelphia . Mencoba menghindari hujan, pasangan ini mendekati meja resepsionis untuk mendapatkan tempat bermalam. "Dapatkah Anda memberi kami sebuah kamar di sini?" tanya sang suami. Sang pelayan, seorang laki-laki ramah dengan tersenyum memandang kepada pasangan itu dan menjelaskan bahwa ada tiga acara konvensi di kota. "Semua kamar kami telah penuh, Tapi saya tidak dapat mengirim pasangan yang baik seperti Anda keluar kehujanan pada pukul satu dini hari. Mungkin Anda mau tidur di ruangan milik saya? Tidak terlalu bagus, tapi cukup untuk membuat Anda tidur dengan nyaman malam ini."Ketika pasangan ini ragu-ragu, pelayan muda ini membujuk. "Jangan khawatir tentang saya. Saya akan baik-baik saja" kata sang pelayan. Akhirnya pasangan ini setuju.
Ketika pagi hari saat tagihan dibayar, laki-laki tua itu berkata kepada sang pelayan, "Anda seperti seorang manager yang baik yang seharusnya menjadi pemilik hotel terbaik di Amerika. Mungkin suatu hari saya akan membangun sebuah hotel untuk Anda". Sang pelayan melihat mereka dan tersenyum. Mereka bertiga tertawa.
Saat pasangan ini dalam perjalanan pergi, pasangan tua ini setuju bahwa pelayan yang sangat membantu ini sungguh suatu yang langka, menemukan seseorang yang ramah bersahabat dan penolong bukanlah satu hal yang mudah.
Dua tahun berlalu. Sang pelayan hampir melupakan kejadian itu ketika ia menerima surat dari laki-laki tua tersebut. Surat tersebut mengingatkannyapada malam hujan badai dan disertai dengan tiket pulang-pergi ke New York, meminta laki-laki muda ini datang mengunjungi pasangan tua tersebut. Laki-laki tua ini bertemu dengannya di New York, dan membawa dia ke sudut Fifth Avenue and 34th Street.
Dia menunjuk sebuah gedung baru yang megah di sana, sebuah istana dengan kemerahan, dengan menara yang menjulang ke langit. "Itu", kata laki-laki tua, "adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk engkau kelola." "Anda pasti sedang bergurau," jawab laki-laki muda."Saya jamin, saya tidak,"kata laki-laki tua itu, dengan tersenyum lebar. Nama laki-lakitua itu adalah William Waldorf Astor, dan struktur bangunan megah tersebut adalah bentuk aslidari Waldorf-Atoria Hotel. Laki-laki muda yang kemudian menjadi manager pertama adalah George C. Boldt. Pelayan muda ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawa dia untuk menjadi manager dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di dunia.
Jadi...dengan latihan untuk selalu menerapkan QBQ maka akan membuat kita selalu berusaha memandang sesuatu dari sisi positif, dan selalu memfokuskan perubahan adalah dari diri kita sendiri dalam hal ini "saya" bukan orang lain "mereka" "kalian" dan "kamu". Jangan mengeluhkan segala sesuatu yang diluar kontrol kita, satu-satunya yang ada di dalam kontrol kita adalah diri kita sendiri
Diambil dari training yang dibawakan oleh Pak Panca Rahardiyanto, S.Kom
"Mengapa mereka melakukan semua ini jadi mempersulit saya saja?“
"Mengapa yang lain tidak bekerja lebih keras?“
"Kapan mereka akan mentraining saya?"
"Mengapa mereka tidak berkomunikasi dengan lebih baik?"
dan pertanyaan-pertanyaan yang sejenis
Semua pertanyaan di atas dalam konsep QBQ disebut sebagai Pertanyaan Salah yaitu suatu pertanyaan pertama yang seketika itu muncul di benak kita dalam suatu kejadian yang menimpa kita. Pertanyaan pertama yang muncul ini biasanya bersifat negatif.
Bandingkan pertanyaan di atas dengan pertanyaan ini :
"Bagaimana supaya saya bisa bekerja lebih maksimal dalam kondisi seperti ini?"
"Apa yang bisa saya lakukan untuk bisa membantu orang lain bekerja lebih keras"
"Apa yang harus saya pelajari untuk bisa meningkatkan skill saya?"
"Bagaimana saya bisa belajar berkomunikasi lebih baik lagi supaya bisa berhubungan dengan banyak orang?"
Pertanyaan di atas ialah pertanyaan yang menggunakan konsep QBQ. QBQ adalah sebuah teknik /alat bantu yang telah dikembangkan dan disempurnakan selama bertahun-tahun, yang membantu semua individu dalam mempraktikkan akuntabilitas pribadi dengan cara mengajukan pertanyaan yang lebih baik. Konsep QBQ ini dicetuskan oleh John G. Miller seorang ahli dalam organizational development dan akuntabilitas pribadi.
John G. Miller telah menulis dan berbicara tentang konsep ini sejak tahun 1995 dan sejak saat itu topik mengenai hal ini selalu didengung-dengungkan olehnya. Nah apabila kita bisa membiasakan / mendisiplinkan diri untuk berpikir cepat dengan memikirkan maksud / arti dari pertanyaan pertama dan kemudian bisa mengajukan pertanyaan berikutnya yang lebih baik (pertanyaan QBQ) maka pasti pertanyaan itu akan menuntun kita untuk mendapatkan penyelesaian yang lebih baik pula
Berikut adalah 3 panduan menurut John G. Miller untuk mengajukan QBQ :
1. Dimulai dengan "Apa" atau "Bagaimana" (bukan "Mengapa", "Kapan" atau "Siapa")
2. Terdiri dari kata "Saya" (bukan "Mereka", "Kalian", "Kami" atau "kamu")
3. Berfokus pada tindakan
Contoh :
- Apa yang dapat saya lakukan untuk membuat perbedaan?
- Bagaimana saya bisa membantu?
Jadi konsepnya lebih ke arah diri sendiri yaitu "saya" karena kita tidak bisa merubah orang lain, yang bisa kita ubah adalah diri kita sendiri.
Untuk lebih memahami tentang QBQ berikut ada sebuah kisah :
Bertahun-tahun dahulu, pada malam hujan badai, seorang laki-laki tua dan istrinya masuk ke sebuah lobby hotel kecil di Philadelphia . Mencoba menghindari hujan, pasangan ini mendekati meja resepsionis untuk mendapatkan tempat bermalam. "Dapatkah Anda memberi kami sebuah kamar di sini?" tanya sang suami. Sang pelayan, seorang laki-laki ramah dengan tersenyum memandang kepada pasangan itu dan menjelaskan bahwa ada tiga acara konvensi di kota. "Semua kamar kami telah penuh, Tapi saya tidak dapat mengirim pasangan yang baik seperti Anda keluar kehujanan pada pukul satu dini hari. Mungkin Anda mau tidur di ruangan milik saya? Tidak terlalu bagus, tapi cukup untuk membuat Anda tidur dengan nyaman malam ini."Ketika pasangan ini ragu-ragu, pelayan muda ini membujuk. "Jangan khawatir tentang saya. Saya akan baik-baik saja" kata sang pelayan. Akhirnya pasangan ini setuju.
Ketika pagi hari saat tagihan dibayar, laki-laki tua itu berkata kepada sang pelayan, "Anda seperti seorang manager yang baik yang seharusnya menjadi pemilik hotel terbaik di Amerika. Mungkin suatu hari saya akan membangun sebuah hotel untuk Anda". Sang pelayan melihat mereka dan tersenyum. Mereka bertiga tertawa.
Saat pasangan ini dalam perjalanan pergi, pasangan tua ini setuju bahwa pelayan yang sangat membantu ini sungguh suatu yang langka, menemukan seseorang yang ramah bersahabat dan penolong bukanlah satu hal yang mudah.
Dua tahun berlalu. Sang pelayan hampir melupakan kejadian itu ketika ia menerima surat dari laki-laki tua tersebut. Surat tersebut mengingatkannyapada malam hujan badai dan disertai dengan tiket pulang-pergi ke New York, meminta laki-laki muda ini datang mengunjungi pasangan tua tersebut. Laki-laki tua ini bertemu dengannya di New York, dan membawa dia ke sudut Fifth Avenue and 34th Street.
Dia menunjuk sebuah gedung baru yang megah di sana, sebuah istana dengan kemerahan, dengan menara yang menjulang ke langit. "Itu", kata laki-laki tua, "adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk engkau kelola." "Anda pasti sedang bergurau," jawab laki-laki muda."Saya jamin, saya tidak,"kata laki-laki tua itu, dengan tersenyum lebar. Nama laki-lakitua itu adalah William Waldorf Astor, dan struktur bangunan megah tersebut adalah bentuk aslidari Waldorf-Atoria Hotel. Laki-laki muda yang kemudian menjadi manager pertama adalah George C. Boldt. Pelayan muda ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawa dia untuk menjadi manager dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di dunia.
Jadi...dengan latihan untuk selalu menerapkan QBQ maka akan membuat kita selalu berusaha memandang sesuatu dari sisi positif, dan selalu memfokuskan perubahan adalah dari diri kita sendiri dalam hal ini "saya" bukan orang lain "mereka" "kalian" dan "kamu". Jangan mengeluhkan segala sesuatu yang diluar kontrol kita, satu-satunya yang ada di dalam kontrol kita adalah diri kita sendiri
Diambil dari training yang dibawakan oleh Pak Panca Rahardiyanto, S.Kom
Selasa, 04 Desember 2007
The Winner
Banyak orang yang berpendapat bahwa the winner atau pemenang ialah orang yang mampu mengalahkan orang lain. Namun sesungguhnya The Winner ialah orang yang menang terhadap cita-cita hidupnya dan setia terhadap cita-cita tersebut. Untuk menjadi seorang the winner kita harus terus fight dengan seluruh hidup kita. Ini bisa dilakukan dengan menaikkan treshold atau ambang dengan terus berlatih. Sebagai ilustrasi seorang pelari yang terbiasa lari selama 5 km tentunya tidak akan kesulitan jika diminta berlari sebanyak 2 km. Namun jika diminta untuk berlari sejauh 10 km tentunya akan sangat sulit. Demikian juga dengan hidup kita, kita harus berlatih untuk berlari sejauh-jauhnya sehingga ketika menghadapi kesulitan kita tidak akan terjebak dalam kesulitan tersebut. Upaya menaikkan treshold ini disebut sebagai levelling up.
Seorang the winner memiliki karakter sbb:
1. close to God (dekat dengan Tuhan)
2. learner (pembelajar)
3. never give up (pantang menyerah)
4. never complaint (tidak pernah komplain)
5. motivator (penyemangat bagi orang lain)
6. be happy (bahagia)
Sebagai ilustrasi tentang the winner dapat digambarkan dalam cerita berikut. Dalam perlombaan lari ada seorang pelari yang berlari dengan sekuat tenaga, namun ketika mendekati garis finish, ia menoleh ke belakang dan melihat lawannya tertinggal jauh di belakang. Saat itu juga ia berhenti berlari dan berjalan kaki menuju garis finish. Para penonton berteriak “ayo lari jangan jalan!!!” namun ia tidak mempedulikannya karena merasa dirinya pasti menang. Dengan sombongnya ia berkata aku pasti menang, mengapa harus berlari…. Dan memang, akhirnya ia menjadi juara 1. Namun sikapnya bukan menunjukkan sikap the winner. Ia adalah the loser. Mengapa demikian? Itu kan pertandingan lari, seharusnya semua pesertanya berlari bukan berjalan. Demikian juga dengan lawannya. Ketika tahu dirinya tertinggal lantas ia putus asa dan tidak melanjutkan berlari karena menganggap dirinya akan kalah. Ini juga bukanlah sikap seorang the winner. Sebagai seorang winner seharusnya ia tetap berlari tidak peduli menang maupun kalah. Demikian juga dalam menjalani hidup, kita harus tetap berlari dan tetap waspada dalam setiap perbuatan kita.
Semoga cerita di atas dapat memberikan ilustrasi tentang the winner, dan semoga kita semua bisa menjadi seorang the winner dan memiliki kualitas hidup yang baik.
Seorang the winner memiliki karakter sbb:
1. close to God (dekat dengan Tuhan)
2. learner (pembelajar)
3. never give up (pantang menyerah)
4. never complaint (tidak pernah komplain)
5. motivator (penyemangat bagi orang lain)
6. be happy (bahagia)
Sebagai ilustrasi tentang the winner dapat digambarkan dalam cerita berikut. Dalam perlombaan lari ada seorang pelari yang berlari dengan sekuat tenaga, namun ketika mendekati garis finish, ia menoleh ke belakang dan melihat lawannya tertinggal jauh di belakang. Saat itu juga ia berhenti berlari dan berjalan kaki menuju garis finish. Para penonton berteriak “ayo lari jangan jalan!!!” namun ia tidak mempedulikannya karena merasa dirinya pasti menang. Dengan sombongnya ia berkata aku pasti menang, mengapa harus berlari…. Dan memang, akhirnya ia menjadi juara 1. Namun sikapnya bukan menunjukkan sikap the winner. Ia adalah the loser. Mengapa demikian? Itu kan pertandingan lari, seharusnya semua pesertanya berlari bukan berjalan. Demikian juga dengan lawannya. Ketika tahu dirinya tertinggal lantas ia putus asa dan tidak melanjutkan berlari karena menganggap dirinya akan kalah. Ini juga bukanlah sikap seorang the winner. Sebagai seorang winner seharusnya ia tetap berlari tidak peduli menang maupun kalah. Demikian juga dalam menjalani hidup, kita harus tetap berlari dan tetap waspada dalam setiap perbuatan kita.
Semoga cerita di atas dapat memberikan ilustrasi tentang the winner, dan semoga kita semua bisa menjadi seorang the winner dan memiliki kualitas hidup yang baik.
Senin, 26 November 2007
Hidup Adalah Sebuah Pilihan
Whatever comes our way,
whatever battle we have raging inside us,
we always have a choice,
my friend Harry taught me that.
He chose to be the best of himself.
It's the choices that make us who we are,
and we can always choose to do what's right.
-Taken from Spiderman 3 -
Terkadang kita merasa bahwa kita tidak punya pilihan akan nasib atau takdir kita, padahal kita punya sebuah pilihan untuk memberikan respon atas apa yang kita alami. Sering kali kita berkata "Saya tidak punya pilihan", pada saat itu sebenarnya kita sudah membuat pilihan untuk tidak membuat pilihan.
Yang terpenting bukanlah pilihan itu benar atau salah namun apakah pilihan yang kita buat membuat kita menjadi orang yang lebih baik lagi. Setiap pemikiran kita, setiap pilihan yang kita buat, setiap pengalaman yang kita alami membuat kita menjadi orang yang berbeda. Keputusan untuk menjadi jahat atau baik selalu di tangan kita.
Jadi pilihan apa yang akan Anda buat hari ini?
whatever battle we have raging inside us,
we always have a choice,
my friend Harry taught me that.
He chose to be the best of himself.
It's the choices that make us who we are,
and we can always choose to do what's right.
-Taken from Spiderman 3 -
Terkadang kita merasa bahwa kita tidak punya pilihan akan nasib atau takdir kita, padahal kita punya sebuah pilihan untuk memberikan respon atas apa yang kita alami. Sering kali kita berkata "Saya tidak punya pilihan", pada saat itu sebenarnya kita sudah membuat pilihan untuk tidak membuat pilihan.
Yang terpenting bukanlah pilihan itu benar atau salah namun apakah pilihan yang kita buat membuat kita menjadi orang yang lebih baik lagi. Setiap pemikiran kita, setiap pilihan yang kita buat, setiap pengalaman yang kita alami membuat kita menjadi orang yang berbeda. Keputusan untuk menjadi jahat atau baik selalu di tangan kita.
Jadi pilihan apa yang akan Anda buat hari ini?
Senin, 12 November 2007
karakter
Ada sepasang suami istri yang berbeda sifat satu sama lain. Sang suami ialah orang yang sangat baik hati. Ia suka memberi dan menolong orang lain, sedangkan sang istri tidak demikian. Suatu ketika datanglah seorang pengemis ke rumah mereka. “Permisi pak, tolonglah anak saya, jika ia tidak segera diobati ia akan meninggal” kata pengemis itu. Seketika itu juga sang suami tergerak hatinya. Namun ia tidak punya uang sepeser pun. Karena ia memiliki prinsip untuk selalu memberi, ia pun berusaha mencari-cari apa yang dapat ia berikan pada pengemis itu. “Oh ya, ia kan butuh obat, akan kuberikan obat saja” pikir sang suami. Namun ternyata kotak obatnya kosong. Ia pun berpikir lagi, “mungkin aku bisa memberinya makanan”.
Dengan segera ia menuju ke meja makan, namun tampaknya tidak ada makanan yang tersisa sama sekali. Sang suami bingung. Ia berkeliling rumah memikirkan apa yang dapat ia berikan. Tiba-tiba ia melihat kotak perhiasan tergeletak di atas tempat tidurnya. Di dalamnya ada sebuah perhiasan terbuat dari emas. Tanpa pikir panjang diambilnya perhiasan itu kemudian diserahkannya kepada pengemis tersebut. Pengemis itu sangat terkejut. Sang suami lantas berkata “Maaf tidak ada yang dapat kuberikan. Ambillah perhiasan ini kemudian juallah di pasar. Semoga dapat membantu menyembuhkan anakmu.” Bagai mendapat durian runtuh, sang pengemis tadi mengucapkan terimakasih berkali-kali atas kebaikan hati sang suami.
Kejadian itu terlihat oleh sang istri. Ia merasa heran mengapa pengemis itu begitu bahagia. Masih dalam kecurigaan ia masuk ke kamar dan melihat kotak perhiasannya dalam keadaan terbuka. Perlahan ia mendekati kotak perhiasannya dan menemukan bahwa perhiasannya hilang. Seketika itu juga ia menyadari bahwa suaminya memberikan perhiasannya kepada pengemis itu. “Suamiku” teriaknya “perhiasanku di mana? Kamu berikan pada pengemis itu ya? Memangnya kamu tidak tahu harga perhiasan itu? Harganya puluhan juta…. Sekarang juga kamu kejar pengemis itu.”
Sang suami tidak membantah ucapan istrinya. Ia segera mengejar pengemis itu. Ketika bertemu dengan pengemis itu ia lalu berkata sambil terengah-engah“ Hai, pak Bapak masih ingat saya? Saya orang yang tadi memberi perhiasan itu ke bapak.” “Oh ya, tentu saja” jawab pengemis itu. Sang suami lalu berkata, “saya mau menyampaikan pesan dari istri saya” Mendengar hal tersebut sang pengemis berpikir “jangan-jangan ia mau mengambil kembali perhiasan yang diberikan kepadaku”. “Bapak tahu tidak berapa harga perhiasan itu? “ tanya sang suami. “Harganya sepuluh juta rupiah, pak”. Lanjut sang suami. Pengemis itu begitu terkejut mendengarnya. Ia berniat mengembalikan perhiasan itu. Namun sebelum ia memberikannya sang suami berkata “Jadi kalau bapak mau menjual perhiasan itu jangan sampai di bawah sepuluh juta ya…. Sekarang cepatlah bapak ke pasar kemudian juallah perhiasan itu dan belikan obat untuk anak bapak” Sang istri menunggu di rumah dengan cemas, sampai dilihatlah suaminya pulang. “Bagaimana pak? Sudah kau temukan pengemis itu?” Sang suami berkata “oh sudah, saya juga sudah menyampaikan pesanmu.” “Apa yang kamu katakan? Dan mana perhiasanku?” tanya sang istri Saya bilang kepada pengemis itu bahwa perhiasan itu harganya sepuluh juta rupiah, jadi jangan sampai menjualnya di bawah sepuluh juta.
Ketika mendengar cerita di atas kita mungkin akan tertawa dan merasa bahwa cerita tersebut konyol. Namun sebenarnya apa sih yang mau disampaikan oleh cerita tersebut? Sang suami adalah orang yang punya prinsip. Ia rela memberikan apa pun demi menolong orang lain. Dan ketika sang istri memintanya menemui pengemis itu, refleksnya bukan meminta kembali perhiasan yang telah ia berikan melainkan berkata agar pengemis itu tidak menjual perhiasan itu di bawah sepuluh juta. Inilah yang perlu kita teladani, bagaimana kita terus menerus berbuat baik, baik melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan, sehingga menjadi kebiasaan dan karakter kita dan pada akhirnya akan menjadi refleks kita dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian kita akan mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.
Jika Anda menanam pikiran, Anda akan menuai tindakan.
Jika Anda menanam tindakan Anda akan menuai kebiasaan.
Jika Anda menanam kebiasaan Anda akan menuai karakter.
Jika Anda menanam karakter Anda akan menuai nasib.
Dengan segera ia menuju ke meja makan, namun tampaknya tidak ada makanan yang tersisa sama sekali. Sang suami bingung. Ia berkeliling rumah memikirkan apa yang dapat ia berikan. Tiba-tiba ia melihat kotak perhiasan tergeletak di atas tempat tidurnya. Di dalamnya ada sebuah perhiasan terbuat dari emas. Tanpa pikir panjang diambilnya perhiasan itu kemudian diserahkannya kepada pengemis tersebut. Pengemis itu sangat terkejut. Sang suami lantas berkata “Maaf tidak ada yang dapat kuberikan. Ambillah perhiasan ini kemudian juallah di pasar. Semoga dapat membantu menyembuhkan anakmu.” Bagai mendapat durian runtuh, sang pengemis tadi mengucapkan terimakasih berkali-kali atas kebaikan hati sang suami.
Kejadian itu terlihat oleh sang istri. Ia merasa heran mengapa pengemis itu begitu bahagia. Masih dalam kecurigaan ia masuk ke kamar dan melihat kotak perhiasannya dalam keadaan terbuka. Perlahan ia mendekati kotak perhiasannya dan menemukan bahwa perhiasannya hilang. Seketika itu juga ia menyadari bahwa suaminya memberikan perhiasannya kepada pengemis itu. “Suamiku” teriaknya “perhiasanku di mana? Kamu berikan pada pengemis itu ya? Memangnya kamu tidak tahu harga perhiasan itu? Harganya puluhan juta…. Sekarang juga kamu kejar pengemis itu.”
Sang suami tidak membantah ucapan istrinya. Ia segera mengejar pengemis itu. Ketika bertemu dengan pengemis itu ia lalu berkata sambil terengah-engah“ Hai, pak Bapak masih ingat saya? Saya orang yang tadi memberi perhiasan itu ke bapak.” “Oh ya, tentu saja” jawab pengemis itu. Sang suami lalu berkata, “saya mau menyampaikan pesan dari istri saya” Mendengar hal tersebut sang pengemis berpikir “jangan-jangan ia mau mengambil kembali perhiasan yang diberikan kepadaku”. “Bapak tahu tidak berapa harga perhiasan itu? “ tanya sang suami. “Harganya sepuluh juta rupiah, pak”. Lanjut sang suami. Pengemis itu begitu terkejut mendengarnya. Ia berniat mengembalikan perhiasan itu. Namun sebelum ia memberikannya sang suami berkata “Jadi kalau bapak mau menjual perhiasan itu jangan sampai di bawah sepuluh juta ya…. Sekarang cepatlah bapak ke pasar kemudian juallah perhiasan itu dan belikan obat untuk anak bapak” Sang istri menunggu di rumah dengan cemas, sampai dilihatlah suaminya pulang. “Bagaimana pak? Sudah kau temukan pengemis itu?” Sang suami berkata “oh sudah, saya juga sudah menyampaikan pesanmu.” “Apa yang kamu katakan? Dan mana perhiasanku?” tanya sang istri Saya bilang kepada pengemis itu bahwa perhiasan itu harganya sepuluh juta rupiah, jadi jangan sampai menjualnya di bawah sepuluh juta.
Ketika mendengar cerita di atas kita mungkin akan tertawa dan merasa bahwa cerita tersebut konyol. Namun sebenarnya apa sih yang mau disampaikan oleh cerita tersebut? Sang suami adalah orang yang punya prinsip. Ia rela memberikan apa pun demi menolong orang lain. Dan ketika sang istri memintanya menemui pengemis itu, refleksnya bukan meminta kembali perhiasan yang telah ia berikan melainkan berkata agar pengemis itu tidak menjual perhiasan itu di bawah sepuluh juta. Inilah yang perlu kita teladani, bagaimana kita terus menerus berbuat baik, baik melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan, sehingga menjadi kebiasaan dan karakter kita dan pada akhirnya akan menjadi refleks kita dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian kita akan mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.
Jika Anda menanam pikiran, Anda akan menuai tindakan.
Jika Anda menanam tindakan Anda akan menuai kebiasaan.
Jika Anda menanam kebiasaan Anda akan menuai karakter.
Jika Anda menanam karakter Anda akan menuai nasib.
Minggu, 23 September 2007
Quality Of Life
Suatu ketika Ketua STIKOM, Pak Jangkung berbicara di depan para karyawan baru dan ikatan dinas dalam suatu orientasi. Sebelum orientasi dimulai beliau mengemukakan beberapa sikap yang harus dimiliki sebelum mengikuti training apapun. Yang pertama ialah menjadi 0. Untuk dapat menerima sesuatu seseorang harus menjadi 0 atau tidak tahu apa pun. Ia harus meninggallkan segala atribut, kedudukan, dan latar belakang yang membuatnya merasa hebat, merasa lebih dibandingkan orang lain. Selain itu ia juga harus berani dan mau dibentuk. Mengapa demikian? Ketika kita tidak menjadi 0 maka semua yang akan diberikan akan sia-sia ibarat gelas yang telah penuh terisi air kemudian diisi lagi dengan maka air tersebut akan tumpah, tidak akan masuk ke dalam gelas. Sikap lain yang harus dimiliki ialah berada dalam posisi pembelajar, ibarat seorang penggergaji yang mengasah gergajinya, bukan sebagai seorang pengamat. Seorang pembelajar akan berada di dalam, mendengarkan, menyimak, dan melakukan perenungan terhadap dirinya sendiri, sedangkan pengamat berada di luar, melihat dan mengomentari semua yang didapatnya.
Pak Jangkung mengemukakan bahwa ilustrasi kehidupan tidaklah cukup hanya dengan 1 hari saja, namun selama hidup kita. Ilustrasi kehidupan ini akan menjadi aspirasi dan akan menimbulkan inspirasi dalam hidup kita. Bila kita tidak memilikinya maka hidup kita pasti akan kering. Beliau mengisahkan beberapa orang sukses, seperti pemilik konimex, soklin, dimana orang-orang tersebut walaupun begitu suksesnya namun tetap rendah hati, tetap mau belajar, tidak hanya pada orang-orang besar, namun juga pada orang-orang kecil, karena bagi mereka untuk belajar, untuk maju tidak terbatas. Orang-orang di sekitar kita bisa menjadi sinar, menjadi inspirasi bagi orang lain, namun semuanya tergantung apakah kita menyadarinya atau tidak.
Untuk mencapai enlightment atau pencerahan dibutuhkan sikap kontemplatif untuk selalu menyadari semua yang kita perbuat, yang kita ucapkan. Beliau mengatakan bahwa hidup harus bawa arit terus-menerus untuk mengganti kepala dengan kepala lainnya yang lebih baik supaya bisa melihat dengan cara yang lain, berpikir dengan cara yang lain dan menjadi lebih baik. Selain itu juga harus pandai dalam bermain peran, kapan kita menjadi pemimpin, kapan menjadi bawahan, kapan harus berada di atas, kapan harus berada di bawah. Selain dapat mempermudah peran orang lain, juga dapat membuat diri kita bisa melihat banyak hal yang selama ini tidak pernah kita perhatikan, karena kita sering merasa diri kita berada di atas orang lain.
Hal yang tidak kalah penting dalam meningkatkan kualitas diri kita yaitu menjadikan pembelajaran sebagai kebudayaan. Apalah artinya kita mendapat nilai A dalam perkuliahan atau mendapat IP 4 jika kita tidak dapat menerapkannya, tidak dapat menggunakannya untuk mengembangkan diri kita, untuk berbagi kepada sesama kita. Apalah artinya semua itu jika kita hanya sibuk untuk membicarakan kejelekan orang lain, melihat kesalahan orang lain, tetapi tidak mampu untuk melihat diri kita, pakah benar kita lebih baik dari orang yang kita bicarakan. Beliau juga mengatakan seburuk-buruknya Anda jangan khawatir asal Tuhan melihat Anda berjuang untuk menjadi lebih baik, jangan melihat apa yang dikatakan manusia. Beliau mengambil contoh seorang pelacur yang selama ini selalu dianggap rendah oleh orang lain, namun apakah orang itu lebih baik dari pelacur tersebut, apakah dia tahu betapa beratnya perjuangan seorang pelacur untuk bisa keluar dari pelacuran dan menjadi lebih baik. Contoh lain yaitu Mike Tyson. Ketika ia menggigit telinga oliver, apa yang dikatakan dunia? Orang hanya melihat seorang Tyson tidak sportif dsb, namun apakah mereka tahu apa yang dilakukan Tyson setelah itu? Ia benar-benar nenunduk, merenungi perbuatannya dan menyesali perbuatannya selama 3 jam, kemudian setelah itu apa yang dilakukannya? Ia langsung minta diantar ke tempat Oliver untuk meminta maaf, karena ia tahu bahwa ia telah salah. Sungguh perbuatan yang luar biasa. Rekan-rekan, meminta maaf bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan…. Dan apa yang dikatakan oleh Oliver? Dia berkata “Aku sudah memaafkanmu sebelum engkau meminta maaf karena aku tahu engkau adalah orang yang besar, aku tahu bagaimana engkau sebenarnya” Mike Tyson berasal dari lingkungan yang sangat buruk, namun ia berjuang untuk bisa keluar dari lingkungan itu dan menjadi seorang petinju tingkat dunia. Contoh lain ialah Ronny Pattinasarani, seorang mantan pemain yang berprofesi sebagai seorang pelatih sepak bola nasional. Ketika anaknya divonis narkoba, ia memutuskan untuk keluar dari profesinya demi mendampingi sang anak menyembuhkan penyakitnya. Cinta kasih dan pengorbanannya membuat kedua anaknya akhirnya terbebas dari narkoba. Demikianlah beberapa cerita tentang perjuangan orang yang fighting to be better.
Dalam bekerja, Pak Jangkung mengemukakan ada 4 macam tipe orang dalam bekerja. Tipe pertama yaitu non duty. Orang yang termasuk tipe pertama hanya datang untuk bekerja. Misal jika jam kerja 7:30 – 16-30 maka ia akan datang dan pulang pada jam tersebut. Orang ini tidak akan berpengaruh banyak bagi lingkungannya. Dengan kata lain jika ia tidak ada maka tidak apa-apa. Tipe kedua ialah duty. Orang tipe ini akan bekerja sebaik-baiknya. Namun apa yang dikerjakannya hanya sebatas pada job desc yang telah diberikan kepadanya. Ia belum mampu mengembangkan dirinya lebih lanjut. Tipe ketiga ialah calling of duty. Orang tipe ini akan melakukan pekerjaan karena panggilan. Mereka dalam bekerja tidak dibatasi oleh waktu demi menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan hari libur pun akan masuk kerja jika pekerjaannya belum terselesaikan. Contohnya jika hujan deras, maka jam berapa pun petani akan keluar dari rumahnya demi menyelamatkan tanamannya, tidak peduli kehujanan, lumpur, dsb. Tipe keempat ialah beyond the duty, yaitu orang yang bekerja melebihi pangilannya. Orang tipe ini akan mengerahkan semua kemampuannya dan memberikan pengabdiannya demi pekerjaannya. Contoh termudah ialah seorang ibu. Walaupun sangat lelah dan letih, namun jika dibutuhkan ia akan siap sedia melayani keluarganya. Dan semua yang dilakukannya tidak perlu diketahui orang lain, tidak butuh pujian dari orang lain. Calling the duty dan beyond the duty lah yang dikenal sebagai karya. Dan kita hidup bukan untuk bekerja namun untuk berkarya. Untuk itu, jangan pernah menolah tugas, karena itu adalah sebuah tantangan untuk eksplorasi semua kemampuan kita. Demikianlah beberapa hal yang disampaikan dalam acara orientasi. Dari cerita dan ilustrasi tentang orang-orang yang memiliki keteladanan dalam hidupnya, Pak Jangkung sempat memberikan renungan bagi kita semua :
Apakah kita sampai hari ini hidup dengan kebencian pada seseorang dan masih terbawa hingga hari ini, hidup dalam masa lampau dan terpenjara selamanya?
What kind of people you will be?
Pak Jangkung mengemukakan bahwa ilustrasi kehidupan tidaklah cukup hanya dengan 1 hari saja, namun selama hidup kita. Ilustrasi kehidupan ini akan menjadi aspirasi dan akan menimbulkan inspirasi dalam hidup kita. Bila kita tidak memilikinya maka hidup kita pasti akan kering. Beliau mengisahkan beberapa orang sukses, seperti pemilik konimex, soklin, dimana orang-orang tersebut walaupun begitu suksesnya namun tetap rendah hati, tetap mau belajar, tidak hanya pada orang-orang besar, namun juga pada orang-orang kecil, karena bagi mereka untuk belajar, untuk maju tidak terbatas. Orang-orang di sekitar kita bisa menjadi sinar, menjadi inspirasi bagi orang lain, namun semuanya tergantung apakah kita menyadarinya atau tidak.
Untuk mencapai enlightment atau pencerahan dibutuhkan sikap kontemplatif untuk selalu menyadari semua yang kita perbuat, yang kita ucapkan. Beliau mengatakan bahwa hidup harus bawa arit terus-menerus untuk mengganti kepala dengan kepala lainnya yang lebih baik supaya bisa melihat dengan cara yang lain, berpikir dengan cara yang lain dan menjadi lebih baik. Selain itu juga harus pandai dalam bermain peran, kapan kita menjadi pemimpin, kapan menjadi bawahan, kapan harus berada di atas, kapan harus berada di bawah. Selain dapat mempermudah peran orang lain, juga dapat membuat diri kita bisa melihat banyak hal yang selama ini tidak pernah kita perhatikan, karena kita sering merasa diri kita berada di atas orang lain.
Hal yang tidak kalah penting dalam meningkatkan kualitas diri kita yaitu menjadikan pembelajaran sebagai kebudayaan. Apalah artinya kita mendapat nilai A dalam perkuliahan atau mendapat IP 4 jika kita tidak dapat menerapkannya, tidak dapat menggunakannya untuk mengembangkan diri kita, untuk berbagi kepada sesama kita. Apalah artinya semua itu jika kita hanya sibuk untuk membicarakan kejelekan orang lain, melihat kesalahan orang lain, tetapi tidak mampu untuk melihat diri kita, pakah benar kita lebih baik dari orang yang kita bicarakan. Beliau juga mengatakan seburuk-buruknya Anda jangan khawatir asal Tuhan melihat Anda berjuang untuk menjadi lebih baik, jangan melihat apa yang dikatakan manusia. Beliau mengambil contoh seorang pelacur yang selama ini selalu dianggap rendah oleh orang lain, namun apakah orang itu lebih baik dari pelacur tersebut, apakah dia tahu betapa beratnya perjuangan seorang pelacur untuk bisa keluar dari pelacuran dan menjadi lebih baik. Contoh lain yaitu Mike Tyson. Ketika ia menggigit telinga oliver, apa yang dikatakan dunia? Orang hanya melihat seorang Tyson tidak sportif dsb, namun apakah mereka tahu apa yang dilakukan Tyson setelah itu? Ia benar-benar nenunduk, merenungi perbuatannya dan menyesali perbuatannya selama 3 jam, kemudian setelah itu apa yang dilakukannya? Ia langsung minta diantar ke tempat Oliver untuk meminta maaf, karena ia tahu bahwa ia telah salah. Sungguh perbuatan yang luar biasa. Rekan-rekan, meminta maaf bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan…. Dan apa yang dikatakan oleh Oliver? Dia berkata “Aku sudah memaafkanmu sebelum engkau meminta maaf karena aku tahu engkau adalah orang yang besar, aku tahu bagaimana engkau sebenarnya” Mike Tyson berasal dari lingkungan yang sangat buruk, namun ia berjuang untuk bisa keluar dari lingkungan itu dan menjadi seorang petinju tingkat dunia. Contoh lain ialah Ronny Pattinasarani, seorang mantan pemain yang berprofesi sebagai seorang pelatih sepak bola nasional. Ketika anaknya divonis narkoba, ia memutuskan untuk keluar dari profesinya demi mendampingi sang anak menyembuhkan penyakitnya. Cinta kasih dan pengorbanannya membuat kedua anaknya akhirnya terbebas dari narkoba. Demikianlah beberapa cerita tentang perjuangan orang yang fighting to be better.
Dalam bekerja, Pak Jangkung mengemukakan ada 4 macam tipe orang dalam bekerja. Tipe pertama yaitu non duty. Orang yang termasuk tipe pertama hanya datang untuk bekerja. Misal jika jam kerja 7:30 – 16-30 maka ia akan datang dan pulang pada jam tersebut. Orang ini tidak akan berpengaruh banyak bagi lingkungannya. Dengan kata lain jika ia tidak ada maka tidak apa-apa. Tipe kedua ialah duty. Orang tipe ini akan bekerja sebaik-baiknya. Namun apa yang dikerjakannya hanya sebatas pada job desc yang telah diberikan kepadanya. Ia belum mampu mengembangkan dirinya lebih lanjut. Tipe ketiga ialah calling of duty. Orang tipe ini akan melakukan pekerjaan karena panggilan. Mereka dalam bekerja tidak dibatasi oleh waktu demi menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan hari libur pun akan masuk kerja jika pekerjaannya belum terselesaikan. Contohnya jika hujan deras, maka jam berapa pun petani akan keluar dari rumahnya demi menyelamatkan tanamannya, tidak peduli kehujanan, lumpur, dsb. Tipe keempat ialah beyond the duty, yaitu orang yang bekerja melebihi pangilannya. Orang tipe ini akan mengerahkan semua kemampuannya dan memberikan pengabdiannya demi pekerjaannya. Contoh termudah ialah seorang ibu. Walaupun sangat lelah dan letih, namun jika dibutuhkan ia akan siap sedia melayani keluarganya. Dan semua yang dilakukannya tidak perlu diketahui orang lain, tidak butuh pujian dari orang lain. Calling the duty dan beyond the duty lah yang dikenal sebagai karya. Dan kita hidup bukan untuk bekerja namun untuk berkarya. Untuk itu, jangan pernah menolah tugas, karena itu adalah sebuah tantangan untuk eksplorasi semua kemampuan kita. Demikianlah beberapa hal yang disampaikan dalam acara orientasi. Dari cerita dan ilustrasi tentang orang-orang yang memiliki keteladanan dalam hidupnya, Pak Jangkung sempat memberikan renungan bagi kita semua :
Apakah kita sampai hari ini hidup dengan kebencian pada seseorang dan masih terbawa hingga hari ini, hidup dalam masa lampau dan terpenjara selamanya?
What kind of people you will be?
Langganan:
Komentar (Atom)