Jumat, 21 Desember 2007

3 Tipe Kemarahan

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah buku terbitan Dian Dharma. Di dalamnya ada sebuah artikel menarik mengenai 3 tipe kemarahan. Berikut adalah artikelnya….

Ada tiga jenis manusia di dunia ini. Siapakah mereka?
Jenis yang pertama seperti orang yang memahat di batu karang,
Jenis yang kedua layaknya orang mencoret-coret di atas tanah, dan
Jenis ketiga adalah orang yang menulis di atas air.

Manusia jenis apa yang memahat di batu karang?
Bayangkan seseorang yang selalu marah dan kemarahannya berlangsung lama,
seperti memahat di batu karang
yang hasilnya tidak cepat lekang oleh angin, air, maupun waktu.

Seperti apa manusia yang mencoret-coret di atas tanah?
Bayangkan seseorang yang selalu marah namun kemarahannya tidak bertahan lama, seperti coretan di atas tanah
yang cepat hilang oleh angin, air, maupun waktu.

Bagaimana dengan jenis orang yang menulis di atas air?
Bayangkan seseorang yang walaupun menerima perkataan keras,
tajam, kasar, mudah berbaikan kembali serta bersikap ramah dan bersahabat, demikianlah jenis orang yang menulis di atas air.

Para pembaca, menjelang akhir tahun ini, marilah kita lakukan introspeksi diri atas segala perbuatan kita di tahun sebelumnya. Dengan demikian di tahun mendatang kita dapat menjadi orang yang lebih sabar, lebih rendah hati, dan lebih bijaksana lagi, serta dapat menjadi orang yang menuliskan kemarahan di atas air…..

Senin, 10 Desember 2007

Question Behind The Question (QBQ)

Pernahkah kita bertanya seperti di bawah ini:
"Mengapa mereka melakukan semua ini jadi mempersulit saya saja?“
"Mengapa yang lain tidak bekerja lebih keras?“
"Kapan mereka akan mentraining saya?"
"Mengapa mereka tidak berkomunikasi dengan lebih baik?"
dan pertanyaan-pertanyaan yang sejenis

Semua pertanyaan di atas dalam konsep QBQ disebut sebagai Pertanyaan Salah yaitu suatu pertanyaan pertama yang seketika itu muncul di benak kita dalam suatu kejadian yang menimpa kita. Pertanyaan pertama yang muncul ini biasanya bersifat negatif.

Bandingkan pertanyaan di atas dengan pertanyaan ini :
"Bagaimana supaya saya bisa bekerja lebih maksimal dalam kondisi seperti ini?"
"Apa yang bisa saya lakukan untuk bisa membantu orang lain bekerja lebih keras"
"Apa yang harus saya pelajari untuk bisa meningkatkan skill saya?"
"Bagaimana saya bisa belajar berkomunikasi lebih baik lagi supaya bisa berhubungan dengan banyak orang?"

Pertanyaan di atas ialah pertanyaan yang menggunakan konsep QBQ. QBQ adalah sebuah teknik /alat bantu yang telah dikembangkan dan disempurnakan selama bertahun-tahun, yang membantu semua individu dalam mempraktikkan akuntabilitas pribadi dengan cara mengajukan pertanyaan yang lebih baik. Konsep QBQ ini dicetuskan oleh John G. Miller seorang ahli dalam organizational development dan akuntabilitas pribadi.

John G. Miller telah menulis dan berbicara tentang konsep ini sejak tahun 1995 dan sejak saat itu topik mengenai hal ini selalu didengung-dengungkan olehnya. Nah apabila kita bisa membiasakan / mendisiplinkan diri untuk berpikir cepat dengan memikirkan maksud / arti dari pertanyaan pertama dan kemudian bisa mengajukan pertanyaan berikutnya yang lebih baik (pertanyaan QBQ) maka pasti pertanyaan itu akan menuntun kita untuk mendapatkan penyelesaian yang lebih baik pula

Berikut adalah 3 panduan menurut John G. Miller untuk mengajukan QBQ :
1. Dimulai dengan "Apa" atau "Bagaimana" (bukan "Mengapa", "Kapan" atau "Siapa")
2. Terdiri dari kata "Saya" (bukan "Mereka", "Kalian", "Kami" atau "kamu")
3. Berfokus pada tindakan

Contoh :
- Apa yang dapat saya lakukan untuk membuat perbedaan?
- Bagaimana saya bisa membantu?
Jadi konsepnya lebih ke arah diri sendiri yaitu "saya" karena kita tidak bisa merubah orang lain, yang bisa kita ubah adalah diri kita sendiri.

Untuk lebih memahami tentang QBQ berikut ada sebuah kisah :
Bertahun-tahun dahulu, pada malam hujan badai, seorang laki-laki tua dan istrinya masuk ke sebuah lobby hotel kecil di Philadelphia . Mencoba menghindari hujan, pasangan ini mendekati meja resepsionis untuk mendapatkan tempat bermalam. "Dapatkah Anda memberi kami sebuah kamar di sini?" tanya sang suami. Sang pelayan, seorang laki-laki ramah dengan tersenyum memandang kepada pasangan itu dan menjelaskan bahwa ada tiga acara konvensi di kota. "Semua kamar kami telah penuh, Tapi saya tidak dapat mengirim pasangan yang baik seperti Anda keluar kehujanan pada pukul satu dini hari. Mungkin Anda mau tidur di ruangan milik saya? Tidak terlalu bagus, tapi cukup untuk membuat Anda tidur dengan nyaman malam ini."Ketika pasangan ini ragu-ragu, pelayan muda ini membujuk. "Jangan khawatir tentang saya. Saya akan baik-baik saja" kata sang pelayan. Akhirnya pasangan ini setuju.

Ketika pagi hari saat tagihan dibayar, laki-laki tua itu berkata kepada sang pelayan, "Anda seperti seorang manager yang baik yang seharusnya menjadi pemilik hotel terbaik di Amerika. Mungkin suatu hari saya akan membangun sebuah hotel untuk Anda". Sang pelayan melihat mereka dan tersenyum. Mereka bertiga tertawa.

Saat pasangan ini dalam perjalanan pergi, pasangan tua ini setuju bahwa pelayan yang sangat membantu ini sungguh suatu yang langka, menemukan seseorang yang ramah bersahabat dan penolong bukanlah satu hal yang mudah.

Dua tahun berlalu. Sang pelayan hampir melupakan kejadian itu ketika ia menerima surat dari laki-laki tua tersebut. Surat tersebut mengingatkannyapada malam hujan badai dan disertai dengan tiket pulang-pergi ke New York, meminta laki-laki muda ini datang mengunjungi pasangan tua tersebut. Laki-laki tua ini bertemu dengannya di New York, dan membawa dia ke sudut Fifth Avenue and 34th Street.

Dia menunjuk sebuah gedung baru yang megah di sana, sebuah istana dengan kemerahan, dengan menara yang menjulang ke langit. "Itu", kata laki-laki tua, "adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk engkau kelola." "Anda pasti sedang bergurau," jawab laki-laki muda."Saya jamin, saya tidak,"kata laki-laki tua itu, dengan tersenyum lebar. Nama laki-lakitua itu adalah William Waldorf Astor, dan struktur bangunan megah tersebut adalah bentuk aslidari Waldorf-Atoria Hotel. Laki-laki muda yang kemudian menjadi manager pertama adalah George C. Boldt. Pelayan muda ini tidak akan pernah melupakan kejadian yang membawa dia untuk menjadi manager dari salah satu jaringan hotel paling bergengsi di dunia.

Jadi...dengan latihan untuk selalu menerapkan QBQ maka akan membuat kita selalu berusaha memandang sesuatu dari sisi positif, dan selalu memfokuskan perubahan adalah dari diri kita sendiri dalam hal ini "saya" bukan orang lain "mereka" "kalian" dan "kamu". Jangan mengeluhkan segala sesuatu yang diluar kontrol kita, satu-satunya yang ada di dalam kontrol kita adalah diri kita sendiri

Diambil dari training yang dibawakan oleh Pak Panca Rahardiyanto, S.Kom

Selasa, 04 Desember 2007

The Winner

Banyak orang yang berpendapat bahwa the winner atau pemenang ialah orang yang mampu mengalahkan orang lain. Namun sesungguhnya The Winner ialah orang yang menang terhadap cita-cita hidupnya dan setia terhadap cita-cita tersebut. Untuk menjadi seorang the winner kita harus terus fight dengan seluruh hidup kita. Ini bisa dilakukan dengan menaikkan treshold atau ambang dengan terus berlatih. Sebagai ilustrasi seorang pelari yang terbiasa lari selama 5 km tentunya tidak akan kesulitan jika diminta berlari sebanyak 2 km. Namun jika diminta untuk berlari sejauh 10 km tentunya akan sangat sulit. Demikian juga dengan hidup kita, kita harus berlatih untuk berlari sejauh-jauhnya sehingga ketika menghadapi kesulitan kita tidak akan terjebak dalam kesulitan tersebut. Upaya menaikkan treshold ini disebut sebagai levelling up.
Seorang the winner memiliki karakter sbb:
1. close to God (dekat dengan Tuhan)
2. learner (pembelajar)
3. never give up (pantang menyerah)
4. never complaint (tidak pernah komplain)
5. motivator (penyemangat bagi orang lain)
6. be happy (bahagia)
Sebagai ilustrasi tentang the winner dapat digambarkan dalam cerita berikut. Dalam perlombaan lari ada seorang pelari yang berlari dengan sekuat tenaga, namun ketika mendekati garis finish, ia menoleh ke belakang dan melihat lawannya tertinggal jauh di belakang. Saat itu juga ia berhenti berlari dan berjalan kaki menuju garis finish. Para penonton berteriak “ayo lari jangan jalan!!!” namun ia tidak mempedulikannya karena merasa dirinya pasti menang. Dengan sombongnya ia berkata aku pasti menang, mengapa harus berlari…. Dan memang, akhirnya ia menjadi juara 1. Namun sikapnya bukan menunjukkan sikap the winner. Ia adalah the loser. Mengapa demikian? Itu kan pertandingan lari, seharusnya semua pesertanya berlari bukan berjalan. Demikian juga dengan lawannya. Ketika tahu dirinya tertinggal lantas ia putus asa dan tidak melanjutkan berlari karena menganggap dirinya akan kalah. Ini juga bukanlah sikap seorang the winner. Sebagai seorang winner seharusnya ia tetap berlari tidak peduli menang maupun kalah. Demikian juga dalam menjalani hidup, kita harus tetap berlari dan tetap waspada dalam setiap perbuatan kita.
Semoga cerita di atas dapat memberikan ilustrasi tentang the winner, dan semoga kita semua bisa menjadi seorang the winner dan memiliki kualitas hidup yang baik.